Stigma, Racun Pergaulan.

 

Mari kita mulai dengan definisi dari stigma sosial itu sendiri. yang artinya ketidaksetujuan, atau diskriminasi terhadap seseorang berdasarkan karakteristik sosial yang membedakan seseorang dengan anggota masyarakat lainnya.

Tentunya, stigma ini sangat membahayakan.

Stigma ini biasanya melekat pada jenis kelamin, ras, usia, dan kesehatan.

Contohnya:

Cewek mah tukang ngambekan.

Keturunan Tionghoa mah kaya-kaya, pemilik modal.

Anak SMP tau apa sih tentang sains.

Ya Ampun, Lu pernah kena covid ya, pergi sana pembawa virus.

Dari keempat contoh tersebut, apakah kalian menemukan kesalahan berpikir yang membahayakan? Semuanya mempunyai pola yang sama, sekelompok orang dicap negatif dan digeneralisir, padahal tidak semua orang seperti itu.

Banyak perempuan yang justru jauh lebih rasional dan banyak laki-laki yang lebih emosional. 

Banyak orang keturunan Tionghoa yang juga hidup susah, menolak ideologi kapitalisme dan banyak orang bukan keturunan Tionghoa yang hidup kaya serta menjadi pemilik modal.

Penaruhan label pada sekelompok orang ini membuat diskriminasi semakin nyata. Contoh lainnya ialah “ih orang tatoan pasti anak nakal”. Semuanya sama, berawal dari stigma sosial dan berakhir pada diskriminasi.

Ini nyata terjadi dan sering terjadi bahkan hingga detik ini.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi toxic society seperti ini.

Pertama, edukasi diri kita sendiri dan pelajari fakta yang ada. Hindari argumentasi dari opini-opini liar dan berhenti menggeneralisasikan segala sesuatu.

Kedua, uji lah pemikiran judgmental kita terhadap sesuatu, apakah itu sebuah pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan atau hanya sekadar merugikan orang lain/sekelompok orang.

Ketiga, jadilah suportif. Ketika mengetahui ada orang yang terkena stigma, support mereka.

Keempat, edukasi orang lain. Apabila kamu mengetahui bahwa stigma merupakan sebuah masalah yang harus diselesaikan. Berikan edukasi pada orang lain, dengan sopan.

Topik stigma sosial sendiri mempunyai sejarah panjang. Kita dapat membaca di internet perihal riset stigma dari Durkheim dan peneliti lainnya. Educate yourself, educate others.

Mari kita lebih bijak dalam bermain sosial media. Berpikirlah dua kali sebelum membuat suatu tweet atau postingan, pikirkan apakah itu berdampak buruk dan dapat dipertanggungjawabkan.

Let’s have a healthy timeline.

Semoga bermanfaat.

Komentar