Fasisme Dalam Agama.
Agama bisa saja tergelincir dengan cara yang mirip fasisme. Apabila pola membangkitkan Histeria massa, eksklusivitas kelompok terbangun. Hanya kelompok tertentu selamat dan mencapai surga. Akhirnya lahir mental, "mencintai kelompok sendiri dengan membenci kelompok lain"
Cara mendeteksi adanya fasisme dalam agama.
Pertama, fasisme berlaku prinsip figur pemimpin dengan otoritas absolut, individualitas manusianya hilang dan para pengikut menjadi massa yang seragam. Praktis, manusia sebagai individu hanya dijadikan alat untuk mencapai tujuan gerakan fasis.
Kedua, fasisme selalu butuh membayangkan adanya musuh, sehingga butuh pemimpin yang kuat. Azas perintah dan kepatuhan berlaku tanpa pengecualian.
Ketiga, ideologi fasis adalah ideologi identitas. Identitas mereka harus seragam, tidak boleh ada unsur lain yang tidak "asli"
Jadi, silahkan cek organisasi kelompok agama itu fasis atau tidak dengan 3 ciri fasisme tersebut. Itu sebabnya, agama mudah tergelincir dalam fasisme. Sejarah menyimpulkan dalam fasisme, selalu ada identitas tunggal dan tidak ada ruang bagi identitas lain.
Tidak ada agama yang mengajarkan fasisme. Tetapi kelompok dalam agama itu lah yang menggunakan cara2 fasisme. Lihat kharismatiknya Mussolini, ia dianggap tidak pernah salah. Bahkan juga menjadi sosok yang dituhankan oleh pengikutnya.
Fasisme, yang pertama kali ada di era Mussolini (1922), secara sederhana dipahami sebagai sistem politik yang merendahkan, dan mengandung kekerasan, kebrutalan, penindasan, dan kediktatoran bahkan rasis, dan diselimuti rasa ingin balas dendam
Pada tahun 1932, Mussolini mendeklarasikan "Dottrina del Fascismo": ”Fascism ia a religious conception of life, and Fascists formed a spiritual community” Hitler memanfaatkan institusi gereja untuk mendukung gerakan Partai Nazi miliknya. Mengambil hati rakyat melalui gereja.
Jurus fasisme memang selalu mengeksploitasi kebencian. Langkah awal mereka memanfaatkan ketakutan yang ada tengah masyarakat. Di Jerman, Yahudi jadi sasaran, mereka kadang dicap kapitalis dan kadang dicap komunis. Bagaimana dengan Neofasisme?
Saat ini, tidak mungkin mereka memakai fasisme seperti dulu. Mereka saat ini menunggangi demokrasi. Bagi mereka demokrasi adalah kendaraan belaka, bukan prinsip yang harus dijunjung tinggi. Retorik dari fasisme tetap bermunculan lewat gerakan populis termasuk Agama.
Makanya, Spake Zarathustra, Nietzsche menulis: “Dari semua yang tertulis, aku hanya menyukai yang telah ditulis manusia dengan darahnya. Tulislah dengan darah, dan kau akan merasakan bahwa darah adalah roh”
Tuhan sudah MATI!
Komentar
Posting Komentar