Keluarga Aidit: Agamis Yang Tragis
Bapaknya Aidit, Abdullah Aidit, berasal dari Agam Sumbar. Di Belitung dikenal sebagai tokoh agama dan panutan masyarakat, juga mantri kehutanan. Ia pendiri organisasi Nurul Islam yang berorientasi kepada Muhammadiyah.
Abdullah pernah bergerilya di Solo dan Yogyakarta di masa revolusi. Tahun 1956 Abdullah menjadi DPR RI mewakili golongan Angkatan 45. Betapa hebat ayahnya Aidit ini. Tak hanya itu, Kakeknya Aidit, Haji Ismail, adalah pengusaha ikan sukses dan sosok yang sangat dihormati.
Ibunya Aidit, Nyi Ayu Mailan, berasal dari keluarga bangsawan. Ayah Mailan, Ki Agus Haji Abdul Rahman, adalah seorang tuan tanah, kaya-raya, sudah haji pula.
Melihat latar belakang itu, tidak mengherankan jika Aidit dan adik-adiknya dididik secara islami sejak dini.
Aidit menamatkan mengaji 3 kali. Kala khataman Alquran biasanya sajian beragam juadah melimpah, begitu pula dengan nasi kuning, panggang ayam, udang goreng, dan abon ikan. Sebagai anak sulung, DN Aidit Lah yang kali pertama merasakan kemegahan khataman ini.
Sejarah kemudian berkehendak lain. Setelah peristiwa 65, Abdullah akhirnya bisa pulang ke Belitung. Namun, ia sakit-sakitan lalu wafat tiga tahun berselang. Sakitnya lantaran memikirkan nasib anak-cucunya yang tercerai-berai, beberapa ditangkap, dipenjara, hingga diasingkan.
Pada 23 November 1965, Abdullah Aidit wafat. Jasadnya tergolek 3 hari. Tidak ada yang mengurus. Orang2 takut terkena getah tragedi berdarah 65 yang melibatkan PKI, partai besutan anaknya, Achmad Aidit.
Semua berlalu, yang tersisa tinggal rumah panggung beratap sirap di Belitung Barat.
Komentar
Posting Komentar