Ketika Derrida ngomong Kebahagiaan


Dalam pemikirannya, Derrida mendapat pengaruh cukup besar dari pemikiran Martin Heidegger perihal “Ada”. Derrida mengutip Heidegger yang menyatakan bahwa sejarah filsafat barat dipenuhi dengan hasrat mencari konsep dasar dari seluruh realitas.


Bagi Heidegger, hasrat semacam itu telah membuat kita lupa pada apa yang “Ada”. Maksudnya?


Misalnya, ketika kita menghadapi suatu realitas berupa “senja”. Bagi seorang ahli astronomi, senja tidak lebih dari suatu fenomena alam biasa.


Akan tetapi, bagi sebagian orang yang menamakan dirinya sebagai “anak indie”, senja barangkali adalah suatu pemandangan yang menimbulkan kenangan.


Dari contoh tersebut, kita tahu bahwa pemahaman terhadap “senja” sangat dipengaruhi oleh sesuatu di luar dirinya (konteks). Akan tetapi, menurut Heidegger, dalam sejarah filsafat barat, baik sang ahli astronomi maupun si anak indie telah merasa menemukan makna final dari “senja”.


Pemikiran “merasa menemukan makna final” semacam itulah yang dikritik oleh Heidegger.


Kemudian, Derrida mengutip pemikiran tersebut dan menyatakan “There is nothing outside the text.” Maksudnya gimana tuh?


Bagi Derrida, kita memikirkan segala hal dengan bahasa, termasuk suatu realitas bernama “senja” tadi. Dengan demikian, segala hal yang ada dalam pemikiran kita tidak lebih dari bahasa atau teks.


Sayangnya, kita, setiap menghadapi teks, merasa sudah paham makna finalnya.


Sebagaimana telah dicontohkan perihal “senja”, baik si ahli astronomi maupun si anak indie, mereka hanya berupaya merumuskan makna dari “senja” tanpa pernah dapat membuat rumusan makna yang secara sempurna mewakili realitas “senja”.


Berangkat dari ide Heidegger, Derrida menyatakan bahwa makna teks tidak pernah putus dan pemutusan terhadap makna teks sangat ditentukan oleh konteks dan, dengan demikian, selalu meninggalkan jejak-jejak makna yang terpinggirkan.


Misalnya, ketika si ahli astronomi, dalam makalahnya, sedang membahas senja, maka ia akan menafikan pemahaman anak indie tentang senja. Begitu pula dengan anak indie. Dalam tulisannya perihal senja, si anak indie tidak akan repot-repot dengan makalah ilmiah perihal senja.


“Senja”, yang hanya satu, ternyata memiliki makna yang tidak tunggal. Jadi, kata “senja” memiliki retakan makna. Derrida menyebut retakan tersebut sebagai Difference (pembeda). Tujuan dekonstruksi adalah untuk menunjukkan retakan makna dalam teks.


Dengan demikian, Derrida telah membatalkan superioritas suatu konsep pengetahuan terhadap konsep pengetahuan lain. Dalam kasus “senja” tadi, makalah ahli astronomi perihal senja setara dengan tulisan anak indie tentang senja.


Lalu, apa kaitan pemikiran Derrida dengan kebahagiaan? Kebahagian kita sangat dipengaruhi oleh konsep pengetahuan yang kita percaya. Bagi seorang teis, beribadah merupakan aktivitas yang menenangkan hati. Akan tetapi, bagi ateis, beribadah merupakan aktivitas yang sia-sia.


Berangkat dari Derrida, kita dapat memahami bahwa tidak ada suatu konsep pengetahuan yang lebih baik dari konsep yang lain. Bagi Derrida, kebahagian seseorang belum tentu sama dengan kebahagiaan orang lain. Dari sinilah kita dapat menarik nilai toleransi dan kesetaraan.


Akan tetapi, bagaimana bila kita, sebagai dekonstruksionis, senantiasa melakukan dekonstruksi terhadap konsep pengetahuan, senantiasa menemukan retakan makna dalam konsep pengetahuan, bukankah kita akan senantiasa meragukan konsep pengetahuan?


Lalu, tanpa konsep pengetahuan yang ajeg, yang mendefinisikan kehidupan dan kebahagiaan, bisakah kita bahagia?


Semoga bermanfaat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

belief in ENGELS

Thales.

Agama Dan Filsafat