"Agama Adalah Candu Masyarakat?"

Atas nama agama, sebagian manusia siap berkorban untuk melakukan apapun demi mendapatkan surga. Banyak orang yang tiba-tiba hijrah karena takut neraka. Kalau kata Karl Marx, ini karena agama adalah candu masyarakat. Sebenarnya apa maksud sang filsuf asal Jerman itu?


 Karl Marx merupakan seorang filsuf asal Jerman yang lahir pada tanggal 5 Mei 1818. 


Ungkapan populernya ialah ‘agama adalah candu bagi masyarakat’, dikutip dari karya beliau berjudul A contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right, yang ditulis pada 1843.


Kutipan tersebut menuai banyak kritikan sehingga Marx dianggap sebagai seorang ateis yang anti terhadap agama. Namun apakah memang demikian? Apakah Marx benar mengkritik agama? Apakah Marx seorang yang anti agama? Tentu kutipan tersebut perlu ditafsirkan secara objektif.

 

Untuk menafsirkan suatu pernyataan tentu kita harus melihat situasi dan kondisi yang menyebabkan Marx mengatakan bahwa agama adalah candu masyarakat. 


Lantas seperti apa keadaan pada masa itu sehingga Marx berani menyimpulkan bahwa agama adalah candu?


Lengkapnya, Marx mengatakan bahwa ‘Agama adalah keluh kesah makhluk yang tertindas, hati dari dunia yang tak berhati, dan jiwa dari situasi yang tak berjiwa. Ia adalah candu bagi masyarakat.’


Pernyataan Marx tersebut merupakan kritik terhadap rakyat tertindas yang menjadikan agama sebagai semangat untuk tetap bertahan dalam sistem kapitalisme yang penuh penindasan. Dan obat yang di miliki oleh rakyat yang tengah berada dalam kesulitan itu adalah agama.


Marx melihat adanya hubungan kotor antara gereja dengan penguasa. Kenyataan bahwa para penguasa menjadikan agama sebagai alat untuk memobilisasi masyarakat demi kepentingan politik membuat lahirnya pernyataan kontroversial tersebut.


Karl Marx kemudian dianggap sebagai filsuf yang anti agama. Padahal Marx menghargai eksistensi agama sebagai suatu hal yang besar dalam kehidupan masyarakat. Namun disaat yang sama hal itu menurut Marx bisa membentuk ilusi akan kebahagiaan di alam pikiran manusia.


Ilusi kebahagiaan inilah yang dikritik oleh Marx karena dapat melemahkan semangat perlawanan kaum tertindas terhadap kaum kapitalis yang bersifat opresif dan memakai agama untuk meninabobokan para kelas yang ditindas oleh mereka. Kenapa hal ini dapat dilakukan?


Konsep adanya kehidupan setelah kematian dan konsep surga neraka yang belum tentu nyata dianggap oleh Marx sebagai ilusi kebahagiaan oleh para kaum tertindas. Karena ilusi ini dapat membuat rakyat untuk bersabar menghadapi segala ketidakadilan semasa hidup.


Masyarakat telah teralienasi, kesadarannya terbatasi oleh agama dan perlawanan tidak pernah dilakukan. Marx bermaksud agar para kaum tertindas tidak hanya bersabar menghadapi ketidakadilan ciptaan para kapitalis. Tetapi harus keluar dari keterasingan itu, mereka harus melawan!


Proses penerjemahan bisa menggeser makna dari suatu kalimat. Apabila pengutipan kalimatnya tidak utuh maka dapat mengurangi maksud dari Marx. Oleh karenanya, perlu untuk memahami seluruh kalimat bahkan juga keterkaitan antar paragraf sebelum dan setelahnya.


Sebelumnya Marx mengatakan, “Perjuangan melawan agama secara tidak langsung adalah perjuangan melawan dunia yang mana aroma spiritualnya ialah agama.” Disini kita ketahui bahwa perjuangan agama itu perjuangan kita melawan dunia bukan melawan agamanya itu sendiri.


Perjuangan melawan dunia yang masyarakat dan negaranya memanfaatkan agama sebagai kostum untuk menutupi kejahatan. Contoh, ketika Lee Min Ho actingnya berantakan, sang sutradara akan mencari tahu dan mengevaluasi kenapa actingnya berantakan, bukan menyalahkan kostum yang dipakai.


Dan paragraf setelahnya, Marx mengatakan bahwa, “Kritik telah merenggut bunga imajiner dari rantai, bukan supaya agar manusia akan terus mengenakan rantai yang tak terhias dan imajiner itu, melainkan agar ia melepaskan rantai itu dan mencari bunga yang nyata”. 


Apa maksudnya?


Kritik terhadap agama menghancurkan ilusi manusia, agar ia berpikir, bertindak dan menghiasi kehidupan nyatanya seperti seorang manusia yang telah menyingkirkan ilusi itu dan memperoleh kesadarannya kembali. Seperti telah ditegaskan bahwa masyarakat harus keluar dari alienasinya.


Marx menegaskan bahwa kritik haruslah tepat sasaran. Dalam situasi dan kondisi Marx pada saat itu yang melihat kerjasama antara Gereja dan penguasa, Marx bermaksud untuk mengkritik ekonomi-politiknya, bukan agamanya. Sebab agama hanya dijadikan alat kepentingan penguasa.


Ia mengajak kita membedah apa saja yang sebenarnya terjadi di dalam masyarakat. Ia meminta kita untuk menyerang penindasan, melawan kepentingan kekuasaan kapitalisme, dan keluar dari keterasingan.


Ironisnya, masih banyak yang mengatakan bahwa Marx adalah seorang ateis yang anti agama. Apakah ini karena kurangnya memahami bacaan secara utuh dan terburu-buru mengambil kesimpulan? Jawabannya ada pada dirimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

belief in ENGELS

Thales.

Agama Dan Filsafat